PASTE KODE IKLANMU DISINI

ICIP-ICIP KOPI PUNTANG DIGUNUNG PUNTANG


  Oleh : abdul azmi fadillah 41815137

Entah sejak kapan aku benar-benar mencicipi kopi aku tak benar-benar mengingat kali pertama mencicipi kopi mungkin pas lagi booming-booming nya film yang diperankan cikho jeriko dan rio dewanto di filosofi kopi 1.
Mungkin sejak SMA saya sudah menikmati kopi tapi itupun hanya kopi sachetan yang ada di warung bukan kopi-kopi yang ada di kafe atau kedai-kedai yang sedang trend saat ini.
Perjalanan kopi awalnya buat saya biasa saja sampai akhirnya tahu proses untuk menyajikan satu cangkir kopi benar-benar panjang,senang sekali rasanya bisa menikmati kopi dari cangkir satu ke cangkir lainya apalagi mengikuti prosesnya dari mulai menanam hingga menjadi suguhan yang bisa dinikmati.

 (Tempat pengolahan kopi gn.puntang punya pak judin/foto by:azmi fadillah)

kopi Gunung Puntang asal Desa Pasirmulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dinobatkan sebagai yang terbaik. Dibarengi harga lelang yang tinggi juga. Pada perhelatan Specialty Coffee Association of America (SCAA) pertengahan April 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.
Saya pun berkesempatan bertandang ke tempat pengolahan kopi pak judin digunung Puntang “kita semua ini mandiri alat-alat juga seadanya yah sayang pemerintah kurang campur tangan” kata pak judin saat kami Tanya tentang pemasaran,Pak judin adalah seorang petani kopi yang dulunya tidak ada harganya dibuat menjadi berharga sampai akhirnya punya kedai di jl.katapang Bandung.
(shelter penjemuran kopi)

Kopi gunung puntang memanglah bukan apa-apa dulunya sebelum menjadi jawara dan dikenal dikalangan-kalangan penikmat kopi.Gunung Puntang hanyalah gunung yang wilayahnya tak luput dari perambahan. Lahannya yang dialihfungsikan menimbulkan masalah lingkungan.
(saat ditunjukan beberapa yang sudah melalui proses penjemuran)

Berbincang-bincang dengan pak judin membuat saya lupa waktu hampir 3 jam kami berbincang tentang kopi dan menghabiskan dua cangkir kopi.Tapi membuat saya sadar untuk menikmati satu cangkir kopi saja membutuhkan waktu yang sangat lama.
(saat berbincang dengan pak Rudi dan pak Judin/foto by:azmi fadillah)

Sambil menikmata kopi saya ditunjukan beberapa kopi hasil proses “ini kopi yah kalo udah abis dedaknya masih bisa dipakai bisa buat maskeran,luluran atau diseduh lagi ditambah susu,kopi ini mah masih enak tapi itu kalo lagi gak ada kopi kalo lagi banyak mah ya dibuang”kata pak judin dengan campuran bahasa sundanya.
(disuguhkan kopi buatan pak janudi/foto by:azmi fadillah)

Setelah puas berbincang-bincang saya diajak kekebun milik kicamat lokasinya gak terlalu jauh dari tempat pengolahan kopi pak judin
(berada dikebun kopi kicamat,kicamat yang berambut gondrong dan memakai kupluk/foto by:azmi fadillah)

Di atas lahan perhutani, bersama petani setempat ia menata dari nol dengan sistem pengolahan hutan bersama masyarakat. “Ketika saya ke lokasi, tanaman peneduh dengan kembang-kembang kopi sudah tumbuh di sana-sini.
Pada praktiknya, KI camat memilih tidak menggunakan pupuk berbahan kimia. Pohon pelindung berakar kuat dan berbuah”Dulu waktu pertama kali saya belajar secara otodidak sering kurang menguntungkan misal dari biaya perawatan habis 1 juta pas panen malah nombok,tapi dari kegagalan itu saya lebih jadi tau apa yang harus diperbaiki”.
(tanaman kopi yang sudah mulai berbuah/foto by:azmi fadillah)

Dikutip dari Dinas Perkebunan Jawa Barat “Kopi  Jawa BaratPada hakekatnya Jawa Barat di dominasi oleh daerah perbukitan dan pegunungan yang notabene memiliki sumber daya alam yang sangat subur dan lingkungan hidup yang kondusip baik untuk pertumbuhan berbagai macam tanaman, mulai dari tanaman pangan, sayuran, hortikultura sampai kepada tanaman perkebunan seperti kopi.
Secara umum kualitas kopi Jawa Barat baik robusta maupun arabika tergolong mempunyai citarasa yang khas dan unik.  Perbedaan tempat dan perbedaan pohon pelindung memberikan citarasa yang berbeda pula sehingga pertanaman kopi di wilayah Jawa Barat memiliki beragam citarasa yang khas dan unik.  Untuk melindungi ke khasan yang dimiliki maka secara bertahap diupayakan untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa perlindungan Indikasi Geografis (IG).
Pada tahun 2011 baru mulai diproses perlindungan untuk kopi yang di tanam di 11 gunung dengan 2 varian. Kopi yang akan didaftarkan untuk mendapatkan Perlindungan Indikasi Geografis tersebut adalah Kopi Arabika yang ditanam di wilayah yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk budidaya kopi yaitu didataran tinggi Priangan yang berada pada ketinggiaan setidaknya 1.000 m dpl.   Proses panjang yang tidak mudah pun berhasil dilalui, dan membuahkan keberhasilan, Indikasi Geografis tersebut diperoleh pada tanggal 22 Oktober 2013 dengan nama produk “Kopi Arabika Java Preanger”. Nama produk ini diambil dari sebutan untuk kopi Arabika yang dihasilkan para petani wilayah Priangan, yang telah terkenal sejak lama karena memiliki rasa serta aromanya sangat spesifik dan berbeda dengan kopi-kopi jenis lain yang ada.

(kopi yang sudah siap dipasarkan/foto by:azmi fadillah)

(proses penumbukan kopi/foto by:azmi fadillah )

Nama kopi Lampung, kopi Manggarai, Flores, Gayo, dan Toraja ini lebih terdengar namanya daripada kopi gunung puntang.
Pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, berjarak 30 kilometer dari Kota Bandung, kicamat  mencoba peruntungan. Belajar otodidak, dia mantap membudidayakan kopi arabika lebih berteknik.Kicamat bercerita dulu sangat sulit menumbuhkan minat petani kopi,saya belajar otodidak tidak semua orang sini bisa,ya kalo semua orang sini bisa memproses kopi nanti kopinya malah dinikmatin sendiri jadi gak bisa dijual,saya juga berharap pemerintah bisa bantu kami para petani masalah pupuk.
Pak judin,Pak Rudi dan kicamat adalah orang-orang yang berhasil membawa nama gunung puntang terkenal karena kopi nya,kata mereka ngopi yang baik itu adalah kopi yang digiling bukan yang digunting.

Ooooh ada puisi juga nih bagi para penikmat kopi hihihi.

Aku Tempat Pulangmu

(Azmifadillah x Akasylvie)

Pukul duabelas sudah terlewatkan
Dia masih di sana setia ditemani lamunan
Menerka-nerka apa sebenarnya isi dalam angan
Bersama uap kopi yang terluka sebab diabaikan

di balik jendela
hujan semakin deras
jejaknya telah menghilang,terhapus tanpa bekas
kapan rindunya akan berbalas ???

Sejatinya dia menanti berselimut cemas
Sedangkan rindu mulai hancur bersama jarak yang selalu meremas
Jarak...
Lagi-lagi jarak
Penghalang yang takkan bisa ia tebas

kuteguk lagi
keruh !
keluh !
peluh !
campur aduk menjadi nyatu
kembalilah,aku akan tetap jadi rumahmu.

(di sepertiga malam )

Aku bukan penikmat kopi yang sering duduk di sudut-sudut kedai sambil membaca buku,aku juga Bungan pujangga-pujangga yang sering bercerita tentang kopi,senja,hujan dan semesta,bukan juga pembait puisi yang sering menulis puisi-puisi kopi.kopi hanyalah kopi bagiku tidak lebih selebihnya filosofi-filosofi hanyalah kata.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Halaman

Copyright © | by: Me